Minggu, 10 Maret 2013

Imam Ghazali : Konsep Perbaikan Akhlak Menurut Imâm al-Ghazâlî Dalam Kitab Al-Arba´în fî Ushûl al-Dîn

Akhlak dalam kehidupan menempati tempat yang utama, yaitu sebagai sarana menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun di era yang serba canggih ini akhlak manusia sedikit banyak telah bergeser dari tempat yang semestinya, yaitu akhlak yang bersumber pada al-Qur’an dan hadis. Dan untuk mengembalikannya dibutuhkan upaya perbaikan, baik melalui media pendidikan atau pun media yang lain. Imâm al-Ghazâlî dalam kitab Al-Arba´în fî Ushûl al-Dîn memberikan solusi pemecahan dengan konsep perbaikan akhlaknya. Menurut beliau akhlak yang baik itu dapat dicapai dengan cara menghilangkan semua kebiasaan buruk yang telah diterangkan dengan jelas satu-persatu oleh syariat. Menjauhkan diri dari padanya dengan membencinya sebagaimana seseorang itu menjauhkan dirinya dari pada segala macam benda yang kotor di samping dia berusaha dengan bersungguh-sungguh membiasakan kebiasaan yang baik sehingga memberi kesan kepada jiwanya dan kemudian barulah dia merasakan nikmat dan kesenangan dari pada hasil usahanya itu.[27]
Seterusnya Imâm al-Ghazâlî menjelaskan bahwa jiwa seseorang telah terbiasa merasakan hal-hal yang enak dan yang jahat saja maka sudah pasti jiwa itu tidak akan dapat menerima yang baik dan benar dan ia tidak dapat dikembalikan kepada keadaan yang lebih berat seperti beramal dan bersungguh. Jiwa yang tercela itu akan dimilikinya secara terus-menerus sekali pun bertentangan dengan tabiat baik manusia. Kegemaran kepada hikmah, cinta kepada Allah serta beribadat kepada-Nya adalah kegemaran seperti kegemaran kepada makanan dan minuman yang berkhasiat kepada manusia sekali pun bertentangan dan menyimpang daripada kebiasaan liar seseorang manusia dan juga bertentangan dengan hawa nafsu yang telah menjadi kebiasaannya. Imâm al-Ghazâlî mengakui bahwa ada manusia yang dilahirkan telah mempunyai budi pekerti yang baik sebagai fitrahnya di mana tidak memerlukan kepada pendidikan dan pengajaran seperti Nabi Isa, Yahya dan para nabi yang lain dan dia merupakan keistimewaan. Sedangkan manusia yang lain hanya mencapai budi pekerti yang baik jika dia berusaha ke arah itu di mana hanya sedikit anak-anak yang dilahirkan dalam keadaan mereka itu benar, fasih berbicara, pemurah dan berani.
Imâm al-Ghazâlî berpendirian bahwa mengubah akhlak manusia itu sangat mungkin boleh berlaku dalam pelaksanaannya sehingga budi pekerti yang baik seseorang itu dapat ditumbuhkan dengan menghilangkan sifat kejinya. Sebagai alasan, beliau mengemukakan hadis yang bermaksud : " Perbaikilah akhlakmu" dan menambah hujahnya bahwa jika akhlak itu tidak dapat dirubah sudah tentu nabi Muhamamd Saw. tidak memerintahkan sebagaimana hadis tersebut. Seterusnya tidak ada gunanya lagi usaha nasihat menasihati sebagaimana tiada faedah adanya hadis yang memberi pengajaran, janji kesenangan untuk mereka yang berbuat baik dan ancaman keras bagi mereka yang berbuat jahat seperti manusia yang mampu mengubah tingkah laku binatang liar menjadi binatang jinak .
Konsep perbaikan akhlak itu adalah dengan membersihkan dan mensucikan kalbu dari segala hal yang tidak disukai oleh Allah Swt.dan merias diri dengan segala hal yang yang dicintai oleh Allah. Dengan jalan mujâhadah dan riyâdhah melaui fase-fase sebagai berikut :
Fase pertama: membersihkan atau menjernihkan hati dari akhlak tercela yang mencakup sepuluh sifat tercela yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan, yang meliputi; nafsu makan yang rakus, berbicara kotor, amarah, kedengkian, bakhil dan cinta dunia, ambisi dan gila harta, cinta dunia, takabur, takjub diri dan riya’.
Fase kedua: merias atau mengisi hati dengan akhlak mulia yang mencakup sepuluh sifat mulia yang satu dengan yang lain juga saling berkaitan, yang meliputi; taubat, khauf, zuhud, sabar, syukur, ikhlas dan jujur, tawakal, cinta, ridla terhadap qadha’ dan mengingat mati dan hakikat mati serta ragam siksa ruhani.
Imâm al-Ghazâlî berpendapat walaupun akhlak tercela manusia itu banyak jenisnya sebagaimana yang telah beliau uraikan dengan panjang lebar dalam kitab Al-Ihyâ’ . Namun, menurutnya sumber dari akhlak-tercela tercela itu timbul dari sepuluh sifat tercela di atas dan satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Sehingga tidak cukup menghilangkan satu, dua atau tiga sifat saja. Melainkan harus secara bersamaan. Dengan menghilangkannya berarti menghilangkan induk dari sifat-sifat tercela termasuk berbicara kotor yang mempunyai cabang sebanyak 20 sifat tercela.
Demikian juga setelah seseorang itu bersih dari sifat-sifat tercela tadi. Maka, Dia harus segera memasukkan akhlak-akhlak yang mulia. Sebagai hiasan dan wujud bahwa akhlaknya telah bersih dari akhlak yang tercela. Imâm al-Ghazâlî memberikan juga sepuluh sifat mulia yang menjadi dasar bagi penanaman sifat-sifat mulia yang lainnya. Dengan memiliki akhlak yang mulia, yaitu akhlak yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis, maka manusia akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar