Minggu, 10 Maret 2013

Napak Tilas dakwah Sunan Muria

Membahas penyebaran Islam di Indonesia tentulah tidak dapat dilepaskan dari peranan Walisongo. Walisongo merupakan perintis dakwah Islam di Indonesia khususnya di Jawa. Walisongo terdiri dari 9 wali, yang salah satunya adalah Sunan Muria.

Senang Menyendiri

Sunan Muria merupakan anak dari Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Dengan nama asli Raden Umar Said atau Raden Prawoto, Sunan Muria tumbuh dengan hidup penuh keagamaan dan mencintai kesenian.
Berbeda dengan ayahnya yang lebih sering berdakwah di pusat kota, Sunan Muria memilih lereng Gunung Muria sebagai tempat berdakwahnya. Inilah yang menyebabkan Sunan Muria mendapatkan namanya. Di lereng Gunung Muria itulah Sunan Muria mendirikan pesantren dan mulai menyebarkan dakwah kepada penduduk sekitar yang berprofesi sebagai pedagang, nelayan, petani, dan rakyat jelata. Di tempat yang terletak 18 km dari kota Kudus ini, Sunan Muria rajin menyebarkan ajaran Islam. Namun walau berfokus pada lereng Gunung Muria, Sunan Muria pun tetap berdakwah di daerah tetangga seperi Jepara, Tayu, Juana, dan Pati.

Bukan tanpa sebab Sunan Muria memilih lereng Gunung Muria sebagai tempat dakwahnya. Sunan Muria memiliki watak suka menyendiri dan bertempat tinggal di desa, berbaur dengan rakyat jelata, hal itulah yang membuat Sunan Muria memilih untuk “menyepi” dari keramaian. Sikapnya yang ramah dan toleran membuat Sunan Muria mudah diterima oleh rakyat kebanyakan.

Metode Dakwah

Walau Sunan Muria diterima dengan baik oleh rakyat jelata, bukan berarti misi menyebarkan agama Islam tidak mendapatkan halangan. Penduduk yang tinggal di sekitar lereng Gunung Sunan Muria masih sangat kental dengan adat istiadat, kepercayaan dan agama asalnya. Karena itulah bukan hal yang mudah memasukkan agama Islam di dalam masyakarat yang begitu berpegang teguh dengan apa yang dipercayainya turun temurun selama berabad-abad.

Melihat hal ini, Sunan Muria berdakwah lewat kesenian, kursus, dan mengajarkan keterampilan. Sunan Muria sangat mencintai kesenian sejak kecil, begitu pun masyarakat sekitar lereng Gunung Muria, sangat kental dengan kesenian. Lewat persamaan ini, Sunan Muria memasukkan unsur Islam dalam berkesenian. Sunan Muria-lah yang mempertahankan tetap berlangsungnya gamelan sebagai media dakwah. Selain memasukkan nuansa Islam dalam bermain gamelan dengan tembang, Sunan Muria pun sering membuat tembang-tembang Jawa untuk memperkuat ingatan masyarakat akan nilai-nilai Islam. Keahlian Sunan Muria ditunjukkan dengan menciptakan Sinom dan Kinanti, salah satu karyanya yang terkenal adalah Sinom Parijotho.

Selain lewat kesenian, Sunan Muria sering mengadakan kursus. Hal ini cukup efektif karena setiap orang dengan pekerjaannya masing-masing sering tidak memiliki waktu yang pas untuk berkumpul.

Dengan adanya kursus, maka penduduk bersedia meluangkan waktu khusus untuk belajar agama tanpa mengganggu pekerjaan sehari-hari karena kursus ini disesuikan dengan waktu masing-masing.

Untuk menambah persaudaraan yang erat, Sunan Muria tidak segan-segan turun langsung ke lapangan untuk berbagi keterampilan yang dimilikinya kepada penduduk sekitar. Misalnya bercocok tanam, berdagang, dan melaut.

Peranan dalam Kerajaan Demak

Selain sebagai penyebar agama Islam, Sunan Muria pun berperan dalam membangun Kerajaan Demak. Sifatnya yang bijak dan halus sering membuat Sunan Muria dimintai tolong dalam menyelesaikan masalah rumit yang terjadi di Kerajaan Demak. Setiap solusi Sunan Muria diterima dengan baik oleh banyak pihak. Tidak heran bila Sunan Muria sangat dihormati berbagai kalangan.

Pernikahan

Sunan Muria memiliki istri bernama Dewi Roroyono. Dewi Roroyono adalah putri dari gurunya yang bernama Ki Ageng Ngerang. Suatu hari, Ki Ageng Ngerang mengadakan tasyakuran ulang tahun Dewi Roroyono yang ke-20. Banyak tamu yang terpesona akan kecantikan Dewi Roroyono. Pada malam harinya, Dewi Roroyono diculik oleh seorang adipati yang menjadi tamu malam itu.

Akhirnya Ki Ageng Ngerang membuat sayembara, barangsiapa yang dapat mengembalikan Dewi Roroyono maka berhak menikahinya. Akhirnya Sunan Muria menang sayembara tersebut dan menikah dengan Dewi Roroyono. Dari hasil pernikahannya itu, Sunan Muria memiliki putra bernama Pangeran Santri atau Sunan Ngadilungu.

Wali Sakti

Tidak banyak yang menyebutkan kesaktian Sunan Muria. Namun melihat dari tata cara hidupnya, Sunan Muria pastilah seseorang yang memiliki fisik kuat bahkan sakti. Padepokan Sunan Muria terletak di lereng Gunung yang tidak dapat dijangkau dengan kendaraan, hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Bayangkan saja bila Sunan Muria setiap hari harus naik turun lereng Gunung Muria untuk berdakwah kepada penduduk. Hal tersebut hanya dapat dilakukan bila memiliki fisik yang sangat kuat.

Makam Sunan Muria

Sunan Muria dimakamkan di Desa Colo dan memiliki perbedaan yang unik dengan makam para wali lainnya. Sesuai dengan wataknya yang suka menyendiri, makam Sunan Muria pun terlihat menyendiri. Bila makam wali lain dikelilingi oleh para punggawanya, maka makam punggawa atau murid Sunan Muria dimakamkan di tempat agak jauh dari makam Sunan Muria.

Makam Sunan Muria terletak pada ketinggian 600 meter dari permukaan laut, lokasinya yang terjal tidak membuat para peziarah mengurungkan niatnya untuk mengunjungi makam Sunan Muria.

Ingin berziarah ke makam Sunan Muria? Siapkanlah fisik untuk melewati sekitar 700 undakan (trap) mulai dari pintu gerbang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar